img-informasimuInformasimu

Meta Uji Kacamata AI untuk Bantu Pengunjung Tunanetra

Meta Uji Kacamata AI untuk Bantu Pengunjung Tunanetra

Meta, EssilorLuxottica, dan museum Pinacoteca di Brera di Milan, Italia, meluncurkan proyek uji coba bertajuk Sensing Art – Discovering Masterpieces Beyond What Meets the Eye pada 13 Oktober 2026. Program tersebut menggunakan kacamata pintar berbasis AI untuk membantu pengunjung tunanetra dan penyandang gangguan penglihatan mengakses informasi mengenai karya seni secara lebih mandiri. Pengumuman proyek dipublikasikan melalui kanal resmi para mitra pada 13–14 Oktober 2026.

Melalui program ini, kacamata AI terintegrasi dengan aplikasi Grande Brera dan panduan audio DescriVedendo yang telah digunakan museum. Pengunjung dapat mendengarkan deskripsi karya seni, memperoleh informasi tambahan melalui Meta AI, serta mengakses bantuan jarak jauh melalui Be My Eyes. Inisiatif ini dikembangkan bersama organisasi yang bergerak di bidang aksesibilitas, termasuk Associazione Nazionale Subvedenti (ANS) dan Unione Italiana dei Ciechi e degli Ipovedenti (UICI).

Proyek tersebut memperlihatkan salah satu penggunaan AI yang berfokus pada aksesibilitas, bukan sekadar otomatisasi atau hiburan. Namun, program ini masih berupa uji coba di satu museum, sehingga efektivitasnya belum dapat digeneralisasi untuk seluruh galeri seni atau kebutuhan setiap penyandang disabilitas penglihatan.

Bagaimana Kacamata AI Meta Membantu Pengunjung?

Bagaimana Kacamata AI Meta Membantu Pengunjung?

Kacamata pintar yang digunakan dalam proyek ini dikembangkan Meta bersama EssilorLuxottica. Perangkat tersebut menggabungkan kamera, pemrosesan AI, serta speaker terbuka yang memungkinkan pengguna mendengarkan informasi sambil tetap menyadari lingkungan sekitar.

Di Pinacoteca di Brera, sistem ini digunakan untuk membantu pengunjung mengenali karya seni yang berada di hadapan mereka. Ketika pengunjung memilih salah satu dari delapan karya dalam rute uji coba, sistem dapat memutar deskripsi audio yang berkaitan dengan karya tersebut melalui pendekatan DescriVedendo.

Pendekatan DescriVedendo menerjemahkan bentuk, komposisi, dan detail visual menjadi penjelasan lisan. Dengan demikian, pengguna memperoleh gambaran mengenai karakter sebuah karya melalui informasi verbal, bukan hanya melalui keterangan tertulis yang mungkin sulit diakses.

Teknologi ini tidak menggantikan pengalaman langsung melihat atau merasakan karya seni. Tujuannya adalah menyediakan saluran informasi tambahan agar pengunjung memiliki kesempatan lebih besar untuk memahami dan mengeksplorasi koleksi museum secara mandiri.

Integrasi Meta AI dan Be My Eyes

Integrasi Meta AI dan Be My Eyes

Selain deskripsi audio, proyek Sensing Art memberikan akses ke Meta AI untuk membantu pengunjung mengajukan pertanyaan mengenai karya dan lingkungan di sekitarnya. Fitur ini berpotensi memberikan konteks tambahan, misalnya ketika pengunjung ingin mengetahui informasi terkait objek yang sedang dijelaskan.

Kacamata tersebut juga dapat digunakan untuk mengakses Be My Eyes. Layanan ini menghubungkan pengguna dengan relawan atau operator yang dapat membantu melalui pandangan kamera perangkat, sesuai mekanisme layanan yang tersedia.

Kombinasi AI dan bantuan manusia penting karena kedua pendekatan memiliki fungsi berbeda. AI dapat memberikan informasi secara cepat, sedangkan bantuan manusia bisa digunakan ketika pengguna membutuhkan dukungan yang lebih kontekstual.

Meski demikian, jawaban AI tidak selalu sempurna. Informasi yang berkaitan dengan sejarah seni, interpretasi karya, atau petunjuk navigasi tetap perlu diperlakukan sesuai tingkat keandalan layanan. Pengguna juga perlu memahami kapan kamera aktif dan bagaimana data digunakan selama interaksi berlangsung.

Delapan Karya Seni Menjadi Bagian Uji Coba

Delapan Karya Seni Menjadi Bagian Uji Coba

Program Sensing Art tidak langsung diterapkan pada seluruh koleksi Pinacoteca di Brera. Tahap awalnya berfokus pada delapan karya pilihan yang tersedia dalam rute khusus bagi pengunjung tunanetra dan penyandang gangguan penglihatan.

Museum mengintegrasikan pengalaman tersebut dengan aplikasi Grande Brera yang telah menyediakan panduan audio. Integrasi ini menunjukkan bahwa pengembangan teknologi aksesibilitas tidak selalu harus dimulai dari sistem baru secara menyeluruh; fitur yang sudah tersedia bisa diperluas melalui perangkat tambahan.

Proyek tersebut juga melibatkan organisasi yang mewakili komunitas penyandang disabilitas penglihatan. Pelibatan pengguna dalam pengembangan dan pengujian penting untuk memastikan bahwa teknologi benar-benar membantu kebutuhan nyata, bukan hanya terlihat inovatif dari sisi teknis.

Hasil uji coba selanjutnya akan menjadi bagian penting untuk mengevaluasi kemudahan penggunaan, relevansi deskripsi, pengalaman navigasi, dan aspek privasi. Meta dan mitranya belum menyatakan bahwa model penggunaan yang sama telah diterapkan secara luas di museum lain.

Cara Mengakses Program Sensing Art

Cara Mengakses Program Sensing Art

Menurut informasi resmi Pinacoteca di Brera, program ini tersedia melalui reservasi di museum di Milan. Pengunjung dapat meminta jadwal dengan menghubungi alamat edukasi museum dan mencantumkan waktu kunjungan serta kebutuhan khusus mereka.

Museum mencantumkan jadwal penggunaan kacamata AI pada Selasa hingga Jumat, pukul 10.00–16.30 waktu setempat. Ketentuan ini berlaku untuk program uji coba yang diumumkan, bukan ketersediaan umum perangkat untuk dipinjam atau dibeli oleh masyarakat.

Bagi museum dan pengelola ruang budaya lain, proyek tersebut dapat menjadi contoh bagaimana teknologi wearable dan AI digunakan untuk memperluas akses terhadap informasi. Namun, penerapan serupa membutuhkan evaluasi aksesibilitas, perlindungan data, pelatihan staf, dan pengujian langsung bersama calon pengguna.

Untuk sementara, belum ada pengumuman bahwa program Sensing Art akan diperluas ke Indonesia atau tersedia sebagai layanan komersial mandiri.

Kesimpulan

Meta, EssilorLuxottica, dan Pinacoteca di Brera mengembangkan Sensing Art untuk membantu pengunjung tunanetra dan penyandang gangguan penglihatan mengakses informasi karya seni melalui kacamata AI. Proyek ini menggabungkan deskripsi audio, Meta AI, serta bantuan jarak jauh melalui Be My Eyes.

Uji coba tersebut menunjukkan potensi AI dalam meningkatkan aksesibilitas budaya, tetapi penerapannya masih terbatas pada museum dan rute tertentu. Keberhasilan jangka panjangnya akan bergantung pada hasil evaluasi pengguna, keandalan teknologi, serta kesiapan museum lain untuk menerapkan sistem serupa.

Selalu ikuti kami untuk seputar teknologi, game, anime, fashion, film, dan hobby lainnya, kunjungi Informasimu.